1. Pengertian
Scabies merupakan penyakit kulit yang timbul akibat penularan melalui
kontak langsung dan tidak langsung. Kontak langsung umumnya melalui kontak
kulit dengan kulit seperti saat berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan
seksual. Sedangkan kontak tidak langsung melalu benda yang digunakan bersama
seperti pakaian, handuk, seprei dan bantal (Harlim, 2019).
Scabies merupakan penyakit kulit akibat infeksi dari virus ekto-parasite
sarcoptes skabiei var hominis yang menimbulkan gejala klinis berupa gatal
di malam hari. Tanda scabies yang terlihat berupa ruam kemerahan disertai lepuh
kecil atau benjolan di kulit. Umumnya area kulit yang terkena diantaranya : jari
tangan dan kaki, di ketiak, di sekitar pinggang, di sepanjang bagian dalam
pergelangan tangan, di siku bagian dalam, di telapak kaki, di dada, di sekitar
puting susu, di sekitar pusar, di sekitar alat kelamin, di area selangkangan,
dan di pantat (Ramadhan et al., 2024).
1.2
Faktor Risiko Scabies
Keberadaan scabies dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu usia, jenis kelamin, tingkat kebersihan, penggunaan alat-alat pribadi bersama-sama, kepadatan penghuni, tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang scabies, budaya setempat, serta sosio-ekonomi (Purwanto & Hastuti, 2020) :
1.
Usia
Scabies dapat ditemukan pada semua usia tetapi lebih sering menginfestasi
anak-anak dibandingkan orang dewasa. Anak-anak lebih mudah terserang scabies
karena daya tahan tubuh yang lebih rendah dari orang dewasa, kurangnya
kebersihan, dan lebih seringnya mereka bermain bersama anak-anak lain dengan
kontak yang erat.
2.
Jenis Kelamin
Scabies dapat menginfestasi laki-laki maupun perempuan, tetapi laki-laki
lebih sering menderita Scabies. Hal tersebut disebabkan lakilaki kurang
memerhatikan kebersihan diri dibandingkan perempuan. Perempuan umumnya lebih
peduli terhadap kebersihan dan kecantikannya sehingga lebih merawat diri dan
menjaga kebersihan dibandingkan laki-laki.
3.
Tingkat Kebersihan
Memelihara kebersihan diri pada seseorang harus menyeluruh, mulai
dari kulit, tangan, kaki, kuku, sampai ke alat kelamin. Cuci tangan sangat
penting untuk mencegah infeksi bakteri, virus, dan parasit. Scabies menimbulkan
rasa gatal yang hebat terutama pada malam hari dan pada suasana panas atau
berkeringat. Karena rasa gatal yang hebat, penderita Scabies akan menggaruk
sehingga memberikan kenyamanan dan meredakan gatal walau untuk sementara.
Akibat garukan, telur, larva, nimfa atau tungau dewasa dapat melekat di kuku dan
jika kuku yang tercemar tungau tersebut menggaruk daerah lain maka Scabies akan
menular dengan mudah dalam waktu singkat. Oleh karena itu, mencuci tangan dan
memotong kuku secara teratur sangat penting untuk mencegah Scabies. Mandi dua
kali sehari memakai sabun sangat penting karena pada saat mandi tungau yang
sedang berada di permukaan kulit terbasuh dan lepas dari kulit.
1.3
Patofisiologi Scabies
Tungau yang menempel pada kulit membuat celah pada dasar kulit
kemudian berkembang biak dan tungau jantan akan mati, terkadang tungau jantan
dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh tungau betina.
Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum,
dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari terutama pada malam hari dan sambil meletakkan
telurnya 2 atau 4 butir sehari. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari
dan menjadi larva yang setelah 2-3 hari akan menjadi nimfa. Terowongan pada
kulit dapat sampai ke perbatasan stratum korneum dan stratum granulosum.
Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu
antara 8-12 hari.
Keluhan utama yang dirasakan penderita adalah rasa gatal terutama
pada malam hari (pruritus nocturnal)
atau bila cuaca panas serta pasien berkeringat, oleh karena meningkatnya aktivitas
tungau saat suhu tubuh yang meningkat. Rasa gatal disertai gejala lainnya, biasanya
timbul 3-4 minggu setelah tersensitisasi oleh produk tungau dibawah kulit (Sungkar, 2016).
1.4
Tanda Gejala Scabies
Untuk dapat menegakkan diagnosis Scabies dapat dengan cara mencari 2
dari 4 tanda (Harlim, 2019) :
1.
Pruritus nokturna (gatal pada malam hari)
Artinya gatal
pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas dari tungau ini lebih tinggi
pada suhu yang panas dan lembab
2.
Menyerang sekelompok manusia
Misalnya dalam suatu keluarga biasanya seluruh anggota keluarga akan
terkena infeksi.
3.
Tampak Ruam di Kulit
Ditemukan ruam pada kulit, pada ujung ruam ditemukan papul dan vesikel.
Jika timbul infeksi ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dan
lain-lain).
4.
Menemukan tungau
Merupakan hal yang paling baik untuk mendiagnosis scabies yaitu
dengan cara menemukan satu atau lebih tungau
1.5
Penularan Scabies
Penularan dapat melalui kontak langsung dan tidak langsung. Kontak langsung umumnya melalui kontak kulit dengan kulit seperti saat berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual. Sedangkan kontak tidak langsung melalu benda yang digunakan bersama seperti pakaian, handuk, seprei dan bantal (Arivananthan, 2016).
1.6
Penatalaksanaan Scabies
Penatalaksaan Scabies dibagi menjadi dua cara yaitu non
medikamentosa dan medikamentosa (Widaty, 2024) :
1.
Non-medikamentosa
Pasien
dianjurkan merendam pakaian, seprei, dan handuk dalam air panas dengan suhu
minimal 600C selam 10 menit, kemudian menyetrikanya. Pada pakaian
yang tidak dapat dicuci dapat di simpan dalam plastik kedap udara selama 2
minggu. Lantai dan karpet dapat di vakum.
2.
Medikamentosa
Pengobatan Scabies
dapat dilakukan dengan menggunakan seluruh obat kutu, pengulangan aplikasi obat
diperlukan umumnya satu minggu setelah terapi pertama untuk menguranfi
reinfestasi dari kutu. Obat topikal kutu diberikan selama satu malam pada
seluruh permukaan tubuh terutama sela-sela jari kaki dan tangan, lipat bokong,
pusar, dan bagian bawah jari kaki dan tangan. Dalam waktu 3 hari setelah penggunaan
obat topikal pasien akan merasa perbaikan gejala tetapi harus diberitahukan
bahwa bercak dan rasa gatal akan tetap dirasakan hingga 4 minggu. Rasa gatal
pada periode ini disebut “postskabetic itch”. Untuk mengurangi rasa gatal,
penggunaan antihistamin dan pelembab lebih memberikan hasil dibandingkan
menggosok badan dengan kuat menggunakan sabun yang dapat menyebabkan iritasi (Harlim, 2019).
1.7
Pencegahan Scabies
Penyakit Scabies sangat erat kaitannya dengan kebersihan dan
lingkungan yang kurang baik oleh sebab itu untuk mencegah penyebaran penyakit
ini dapat dilakukan dengan cara (Widaty, 2024):
1.
Mandi secara teratur dengan
menggunakan sabun.
2. Mencuci pakaian, sprei, sarung
bantal, selimut dan lainnya secara teratur minimal 2 kali dalam seminggu.
3.
Tidak saling bertukar pakaian,
handuk dengan orang lain.
4.
Hindari kontak dengan orang
serta pakaian yang dicurigai terinfeksi tungau Scabies.
5.
Menjaga kebersihan rumah dan ventilasi
yang cukup
6. Kebiasaan menyetrika pakaian, mengeringkan handuk, dan menjemur kasur di bawah terik sinar matahari setidaknya seminggu sekali dapat mencegah penularan Scabies. Tungau akan mati jika terpajan suhu 50o C selama 10 menit. Oleh karena itu, panas setrika dan terik sinar matahari mampu membunuh tungau dewasa yang melekat di barang-barang tersebut apabila terpajan dalam waktu yang cukup (Setyaningrum et al., 2018)
DAFTAR PUSTAKA :
Alfarra, Y., Harlisa, P., & Karyadini, H. W. (2022). Upaya Pencegahan dan Penularan Scabies di Pondok Pesantren Ibrohimiyyah Demak melalui Edukasi Personal Hyegiene pada Santri. Indonesian Journal of Community Services, 4(1), 101. https://doi.org/10.30659/ijocs.4.1.101-109
Arivananthan, V. (2016). Mengenali Patogenesis Dan Penyebaran Scabies Di Daerah Beriklim Tropis Dan Subtropis. Intisari Sains Medis, 5(1), 70–75. https://doi.org/10.15562/ism.v5i1.38
Harlim, A. (2019). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin - Dermatomikosis dan Nondermatomikosis. In Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (Vol. 1).
Hayati, I., Anwar, E. N., & Syukri, M. Y. (2021). Edukasi Kesehatan dalam Upaya Pencegahan Penyakit Scabies di Pondok Pasantren Madrasah Tsanawiyah Harsallakum Kota Bengkulu. Abdihaz: Jurnal Ilmiah Pengabdian Pada Masyarakat, 3(1), 23. https://doi.org/10.32663/abdihaz.v3i1.1768
Kemenkes RI. (2023). Hari Penyakit Tropis Terabaikan Sedunia (NTD). In P2P.Kemkes.Go.Id. http://p2p.kemkes.go.id/hari-penyakit-tropis-terabaikan-sedunia-ntd/
Lensoni, Yulinar, Rahmawati, C., Meliyana, Safitri, E., & Rahmayani, D. (2020). Pelatihan Pencegahan Penularan Penyakit Scabies dan Peningkatan Hidup Bersih dan Sehat Bagi Santriwan. Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(3), 470–475. https://doi.org/10.31849/dinamisia.v4i3.4519
Navylasari, N. N., Ratnawati, R., & Warsito, E. (2022). Faktor Yang Berhubungan Dengan Upaya Pencegahan Penularan Penyakit Scabies Di Pondok Pesantren Darul Ulum Takeran Kabupatan Magetan. Ulil Albab: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(2), 129–136. https://journal-nusantara.com/index.php/JIM/article/view/45#:~:text=Kesimpulannya yaitu faktor yang berhubungan,ustadzah%2C dan teman sebaya santri.
Nindi, S., & Sestiono, M. (2023). Hubungan Sanitasi Lingkungan dan Personal Hygiene Anak Panti dengan Penyakit Scabies di Panti Asuhan Al Amin Kecamatan Benjeng. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 2023(12), 369–377. https://doi.org/10.5281/zenodo.8079045
Noer, M. R. (2024). Peningkatan Pengetahuan tentang Pengelolaan Scabies pada Santriwati Pondok Pesantren Modern. 9(2), 291–295.
Nursalam. (2016). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (Pendekatan Praktis) (edisi 4). Jakarta: Salemba Medika.
Nurwahyuni, A., Oktriani, H., Monika, H., & Maulidiyah, H. (2022). Efforts To Increase Knowledge About Menstruation In SMP Negeri 1 Sadananya. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2, 123–131.
Purwanto, H., & Hastuti, R. P. (2020). Faktor Risiko Penyakit Scabies di Masyarakat. Jurnal Kesehatan, 11(1), 145. https://doi.org/10.26630/jk.v11i1.1628
Ramadhan, M., Faisal, F., Fradina, I. T., & Mawardi, A. (2024). Peningkatan Kesehatan Santri dalam Pondok Pesantren melalui Edukasi tentang Scabies. To Maega : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 7(1), 68. https://doi.org/10.35914/tomaega.v7i1.2353
Setyaningrum, Amin, M., Hastuti, U. ., & Suarsini, E. (2018). Buku Pendidikan Scabies dan Upaya Pencegahannya.
Sungkar, S. (2016). Buku Scabies. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. www.bpfkui.com
Tuharea, S. F., Wakano, A., & Rumakey, R. S. (2022). Hubungan personal hygiene dengan kejadian Scabies pada masyarakat pesisir di Apui RT 06 Kelurahan Ampera Kecamatan Kota Masohi. Jurnal Kepperawatan Indonesiia Timur, June, 45–53.
WHO. (2023). Scabies. https://www.who.int/health-topics/scabies#:~:text=Globally%2C it is estimated to,microscopic mite (Sarcoptes scabiei var.
Widaty, S. (2024). Penanganan Komprehensif Scabies Melalui Pembelajaran dan Penatalaksanaan Kasus secara Dalam Jaringan dan Luar Jaringan: Menuju Indonesia Bebas Penyakit Tropis Terabaikan. https://quran.nu.or.id

